Hal ini sudah berlalu,
berbulan-bulan lamanya. Awalnya biasa-biasa saja, tanpa chatting, tanpa saling
sapa, hanya melihat kabarnya di Timeline saja. Sampai akhirnya aku memberanikan
diriku menyapanya duluan, memberinya ‘sedikit’ perhatian, agar dia melihatku
dan ternyata berhasil. Sampailah rasa ini pada tingkat selanjutnya. Waktu
berlalu, detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Aku sadar
aku butuh dia, aku mencintainya, aku menyayanginya. Namun aku sadar, hubungan
kami tidaklah lebih dari sebatas ‘adik-kakak’ saja. Aku berusaha menutupinya,
menyembunyikan perasaan ini namun ternyata sulit, aku tidak sanggup, tapi harus
menyanggupinya. Aku tak mampu menampungnya sendiri, dan kuputuskan untuk
menceritakan sebagian ke orang terpercayaku, hanya sebagian.
Ada yang bilang
aku egois, ada yang bilang ungkapkan segera. Semuanya mengarahkanku untuk
mengungkapkan nyatanya. Oh tuhan, seandainya mereka tau betapa ku tak sanggup
mengatakannya, aku tak sanggup mengatakannya secara gamblang. Bukan karena aku
malu, tapi aku takut, aku takut setelah kuungkapkan dia akan meninggalkanku,
illfeel kepadaku lalu pergi, karena nyatanya, ku tak ingin kehilangan dirinya,
walaupun dia tak tau betapa pentingnya dirinya untukku, betapa berharganya dia.
Cintaku bagiku juga adalah hal berharga dan bukan untuk sembarang orang, bukan
untuk sembarang hati. Tuhan, aku menyayanginya dengan sangat tulus, maka
balaslah ketulusanku ini dengan sesuatu yang sebanding, terkadang, dirinya
mengabaikanku dengan sejuta alasan, dan aku tetap sabar menantinya, menunggunya
hingga dia membutuhkanku.
Tuhan, satu pintaku, kupersembahkan cinta dari hatiku
yang tulus ini untuk dia yang kuinginkan, dia yang kucintai tulus dengan
segenap hatiku, dia yang kusayangi, dia yang segalanya bagiku, juga dia yang
mencintaiku apa adanya, dia yang tulus, dia yang menyayangiku, dan dia yang
menginginkanku.
Tuhan, salahkah ku mencintai orang itu?
Salahkah aku
memperhatikannya? Ntah itu dari dekat atau bahkan dari kejauhan.
Salahkah
diriku ini mencintainya dalam diamku?
Tuhan, dia tak tau betapa aku
mencintainya.
Tuhan, aku titipkan cintaku ini untuknya, jikalaupun suatu hari
nanti dia menemukan yang terbaik untuknya dan itu bukanlah diriku, simpan
baik-baik cintaku ini untuk orang yang pantas kelak suatu saat nanti, Tuhan--
